Minggu, 31 Maret 2019

MASIH ADA PERLU

kembali dengan cerita lama yang ternyata belum usai
segala yang terjadi di waktu lalu seakan sengaja aku panggil lagi
kemudian sesekali merenung dan menyesali semuanya
tapi tidak ada yang bisa dirubah yang telah terjadi
luka akan tetap menjadi luka
sekarang saatnya berusaha menjadi plester yang berusaha mermperbaiki luka itu
memeluknya erat agar tak lagi berdarah
menjaganya dari segala hal yang membuatnya semakin parah
sambil perlahan memberikan penawar untuk membuatnya cepat pulih

maafku tak bisa mengembalikan masa indahmu
masa yang sudah kamu buang untuk mengobati lukamu sendiri
sedangkan sang pembuat luka selalu berusaha mencari pembelaan
masih berusaha meyakinkan diri sendiri kalau saja keputusannya adalah yang terbaik
nyatanya hal bodoh yang ia putuskan sudah merusak hidup seseorang

ada kalanya aku harus merenung lama untuk menguatkan diri bahwa bukan aku yang salah
nyatanya aku layak dibenci
dan selama ini aku masih berusaha tidak membenci diri sendiri

banyak hal yang tidak bisa dirubah
keputusanku, lukamu, perbuatanku, dan pembelaanku
nyatanya sekarang kamu sudah meyakinkanku kalau pembelaanku yang lalu hanya sia-sia
aku hanya sedang menutupi kesalahan besarku
menganggap semuanya wajar terjadi
dan tidak memikirkan apapun yang akan kamu terima

sekali lagi,
kamu sangat berhak untuk membenci
cukup salahkan aku yang terlalu lama membela kesalahanku sendiri

Minggu, 10 Juni 2018

ANAK RANDOM LAGI CERITA

Sekarang pukul 2.38 WIB tertanggal 11/06/2018

Saya baru saja keluar dari kamar mandi dan mendapati baterai handphone saya menipis. (infopenting, dunia harus tahu)
Saya sedang tidak berteman malam ini. Disaat semua orang sedang merebahkan badannya dikasur, saya sibuk berkeliling rumah untuk memastikan semuanya aman (sebenernya karena gabut aja)

Beberapa bulan terakhir saya sudah merusak jam tidur malam saya.
Ya. Merusaknya. Membuatnya berantakan. Tidak teratur. Dan sulit dibenahi. Oke ini terlalu mendramatisir wkwkwk yang jelas malam jadi siang dan siang jadi malam.

Tiba-tiba beberapa menit yang lalu saya mendapat hidayah untuk mengisi blog ini. Mari kita bersihkan sarang laba-laba di blog ini. (apasih)

Malam hari selain saya gunakan untuk scroll apapun yang bisa saya scroll, waktu malam saya buat untuk memikirkan hal-hal yang melintas diotak. Seperti, sebenarnya saya kurus atau gemuk. Ya, pertanyaan itu pernah berhari-hari saya pikirkan dan selalu saya usahakan untuk menemukan jawabannya. Akhirnya saya simpulkan bahwa saya adalah apa yang ada disekeliling saya. Ketika saya bersama orang yang ukuran tubuhnya lebih kecil otomatis saya gemuk dan begitu sebaliknya.

Ya, random. Hal-hal yang seharusnya tidak perlu dipikirkan mendalam tapi tidak dengan saya. Saya akan memikirkannya dalam dalam sampai saya puas dengan kesimpulan yang saya ambil. Se-nggak-penting itu waktu tidur yang saya buang? Ooohh jelas tidak. Ini adalah bentuk peduli saya terhadap diri saya sendiri. (tetep nggak mau disalahin)

Jadi…..
Sambil menunggu baterai handphone terisi, mari kita membuat jari-jari olahraga malam untuk mengisi blog ((((ternggakberfaedah))))) ini.
Karena biasanya apa yang saya pikirkan hanya ada dalam pikiran, kali ini saya akan mencoba menuliskan apapun yang ada dipikiran saya. Tanpa filter. (dikit deh)

Yang ada dipikiran saya detik ini (2.50 WIB) adalah tentang melupakan masa lalu. Bukan lagi galau loh ya, ya karena kembali lagi, saya anak random. Markitmul (marikitamulai)

Sebenarnya saya kurang setuju dengan melupakan masa lalu. Banyak hal yang telah dilakukan masa lalu untuk membentuk diri, sikap, dan sifat kita detik ini. Masa lalu bukan selalu tentang kenangan buruk dan baik. Menurutku itu tentang pelajaran. Bagaimana dengan move on? Itu bukan tentang melupakan orang dimasalalu juga sih. Menurutku itu tentang bagaimana kita bisa menapaki selangkah lebih maju dari posisi sebelumnya. Misalnya dengan menerima kenyataan bahwa dia sudah pergi adalah salah satu definisi move on menurutku. Jadi tidak selalu melupakan apapun yang pernah dilakukan bersama, dan apa saja yang masih sering teringat tentang dia. Atau bahkan melupakan wujudnya, namanya, menghapus semua akses komunikasi dengan doi.

Saya pernah berada ditahap, “GIMANA AKU BISA MOVEON DARI DIA. KITA KEMANA-MANA SELALU BARENG. NGGAK GAMPANG TAU. JANGAN SOK NASEHATIN DEH.”
Iya. Ditahap saya tidak percaya dengan kemampuan saya. Di saat segala semangat yang diberikan orang terdekat terasa hanya sebuah basa-basi. Saat dimana “LO GAMPANG NGOMONG DOANG. GUE NGEJALANIN. “ saya sekarang sedang waras, dan satu hal yang akan saya lakukan kalau misalnya saya adalah orang yang sedang menghadapi diri saya sendiri saat saya bego dulu adalah TOYOR KEPALA.

Menerima segala support orang lain sekecil apapun yang diberikan ternyata menambah energi positif dalam diri. Saya curhat, dia dengerin. Saya dapat energi. Apalagi kalo dia sampai memberikan tanggapan, apalagi memberikan semangat. Seperti diberi tambahan nyawa. Lebaaayyyyy

Tapi memang iya, moveon ngga segampang itu broohhh.
“ Ah lembek lu moveon aja dibuat susah. “ “yaelaaah, kayak kerupuk direndem air aja loyo gitu.”
Sebenernya moveon itu susah. Tergantung bagaimana orang tersebut menutupinya. Iya, menutupi.
“Dia lagi moveon tapi happy terus tuh”, kamu tidak melihat usaha dia untuk menutupinya. Yakinlah moveon itu susah. Yang bilang gampang, kamu ga pake hati ya pasti?

Sebagai anak sosial media (asik) saya masih sering mendapati banyak kenangan masa lalu tentang saya dan orang dimasalalu. Dan terkadang itu membuat saya inget lagi tentang cerita lama.
JIAAHHHH BELOM MOVEON YA LOOOOOO

Sudah. Saya sudah biasa saat melihat namanya. Biasa saat inget masa indah (idiihhhh) dulu. Tapi Allah tidak menginginkan saya untuk melupakan cerita itu. Saya sudah menerima kenyataan bahwa orang itu sudah berada dihalaman yang jauh dari halaman yang sedang saya lalui sekarang.

Jadi ingin berterimakasih. Untuk semua orang yang pernah hadir didalam hidupku dimasalalu. Siapapun kamu, terimakasih sudah menjadi bagian dari hidupku. Pasti kamu bermanfaat buat aku, apapun yang kamu lakukan, Allah sudah memilihmu untuk memperbaiki hidupku. Untuk segala hal yang menyakitkan dimasalalu pun bagian dari perbaikan hidup. Bagaimana menjadi pribadi yang lebih kuat dari sebelumnya.

Bagaimana dengan balikan sama mantan? ((btw ini masih konteks masalalu kan? Tibatiba ada didalam pikiran aja wkwkw))
Bukan hal yang haram saya rasa. Dua orang yang pernah ada ikatan kemudian memutuskan untuk berjalan masing-masing pasti mereka menemukan satu hal (bisa lebih) yang membuat berpikir, “bukan orang ini“

Tidak bisa dipungkiri pasti saya pun akan berharap pasangan saya saat itu adalah orang yang saya harap akan terus bersama saya. Semakin berjalannya waktu, banyak hal yang akan saling kita temukan dalam diri pasangan. Dan saat ada hal yang membuat salah satunya berpikir “bukan orang ini“, kelar……..

Terus kalo udah nemuin ada hal yang membuat berpikir “bukan orang ini“, tapi pas diajak balikan malah mau, siapa yang bego?
Yang nanya yang bego. Otakmu sempit. Yuk jalan-jalan. (ini jadi beneran pengen jalan-jalan, apasiiiihhh random banget)
Ini tentang bagaimana kita belajar. Belajar memperbaiki diri dan belajar menerima orang lain. Pasti semua ada titik tengahnya.
Kalau alasannya karena dia pelit. Itu berarti kamu harus belajar menabung.
Kalo alasannya karena dia suka bohong. Itu berarti kamu harus belajar jujur dan terbuka.
Kalo alasannya dia sibuk nggak punya waktu. Itu berarti kamu diingatkan untuk mengurusi hidupmu dulu, diberi kesempatan untuk fokus dengan hidupmu
Sok bijak padahal gabijak. Bodoamaattttt kan no filter ya hahaha

Lebih milih putus karena diselingkuhin atau karena sibuk nggak punya waktu?
Aku sih lebih milih putus karena diselingkuhin. (nanya sendiri, jawab sendiri)
Karena jelas aja gitu alasannya. Kamu tau alasan kamu pergi karena pasanganmu tidak hanya milikmu. Sejelas itu. Gimana kalau diselingkuhin pas lagi sayang-sayangnya? Itu sih pacarmu yang pinter, dia tetep bisa bikin pacarnya sayaaaaaang banget padahal dia juga sibuk menyayangi orang lain.

Putus karena salah satunya sibuk nggak punya waktu adalah putus paling menyakitkan. Hal itu adalah putus yang disebabkan oleh diri sendiri. Ya, awakmu dewe. Ibaratnya kamu sedang melawan egomu. Kemudian egomu yang menang. Dan kamu merasa tersakiti, padahal yang nyakitin ya kamu sendiri. Awakmu dewe..
Setiap orang pasti punya kesibukan masing-masing, tapi semua tergantung prioritas. Setuju sih tapi klise banget nggak sih? Terkesan hidupmu tergantung pada waktu yang diluangkan oleh pasanganmu.

Hei. Live for your life. Dia hanya pengisi, syukur-syukur kalau membahagiakan. Intinya sih menikmati hidup, bahagia adalah bonus. Asik nggak tuh. Asikin aja dong.

Mari kita tutup tulisan basa basi ini dengan kalimat dari salah satu teman saya yang membuat saya menegakkan kepala. Berikut ini, taraaaaaaaaaa  “UDAH. HOBI KOK DISAKITI.”

Semoga kita adalah orang-orang yang tidak akan menyakiti diri sendiri. Big love!

(3.35 WIB, 11/06/2018)

Senin, 12 Maret 2018

SEDANGKAL ITUKAH?

lagi-lagi kamu memintaku untuk bersikap biasa saja
memintaku untuk menganggap seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa pada kita
memintaku untuk memaklumi segalanya karena keadaan yang memaksamu demikian terhadapku
kamu lupa kalau aku juga manusia?
kamu lupa akupun perlu kamu pertimbangkan perasaannya?
kamu lupa akupun orang yang menanti untuk kamu utamakan?
kamu lupa.

kamu pikir dengan mengetahui kamu pergi dengannya, aku akan baik-baik aja?
kalau ternyata demikian pikiranmu, sedangkal itukah?


Jumat, 23 Februari 2018

DALAM RANGKA MENURUTI SARANMU UNTUK LANJUT NGE-BLOG

setelah lama meninggalkan kebiasaan bercerita di dunia maya.
situasi saat ini membawaku untuk kembali menceritakan sebuah kisah yang baru saja aku lalui
atau bahkan saat ini aku sedang berjuang melewatinya.

di iringi dengan lagu cara melupakanmu dari gisel ini aku akan mulai bercerita

hidup ini akan selalu ada yang datang dan pergi
dan saat ini giliranku untuk menceritakan bagaimana caramu pergi

ini bukan tentang seseorang yang amat aku cinta
ini bukan tentang seseorang yang amat aku sayang
ini bukan tentang seseorang yang amat membuatku nyaman
ini tentang kamu, pendengar baikku

kata orang, bagaimana dia datang adalah bagaimana ia pergi
seperti kilat. begitu caraku mendeskripsikan bagaimana cara kamu datang
cepat dan jelas.
pun sama halnya dengan bagaimana caramu pergi. cepat dan jelas

kamu bukan orang yang aku kenal sebelumnya
bahkan namamu pun tak pernah terdengar olehku
wujudmu amat asing bagiku
dan segala tentangmu awalnya sungguh tidak menarik untukku.
aku dan kamu dipaksa harus berada dalam satu grup yang sama.
kamu duduk dipaling ujung, duduk membungkuk sambil bermain dengan handphone setiamu, beberapa kali kamu terlihat membenarkan posisi kaca matamu, dan matamu masih terarah ke ponsel itu.
itu adalah ingatan pertamaku tentangmu.

sampai akhirnya setiap dari kami mengenalkan dirinya. hingga sampai pada giliranmu. oh itu namamu. hanya itu yang ada di pikiranku. setelahnya? aku bahkan lupa siapa namamu. aku hanya ingat kalau kamu adalah teman grupku

hari kemudian masih sama. kita bertemu dalam grup yang sama. bedanya kali ini kamu duduk di sebrangku. masih dengan posisi yang sama, duduk membungkuk memainkan ponsel itu.

hingga hari keberangkatanku ke desa pun tiba
jelas sekali hari ini bukan hari yang aku nantikan
aku harus berada disebuah tempat yang belum pernah aku kunjungi
bahkan nama daerahnya pun baru saja ku dengar

saat itu bisku akan segera berangkat. aku melihat kamu masuk ke bis yang sama denganku membawa tas jinjing yang besarnya sama dengan badanmu. kamu melewatiku, pun aku tidak berharap kamu menyadari bahwa aku adalah teman satu grupmu yang sebentar lagi akan berada di satu tempat tinggal yang sama. aku yakin kamu tidak memperdulikan siapapun saat itu termasuk untuk menyapaku.

bis itu akhirnya membawaku ke desa itu.
jauh dari keramaian kota, jauh dari pemandangan yang biasa aku lihat. kali ini aku tidak lagi leluasa melihat jalan raya yang ramai oleh kendaraan. sungguh menyejukkan suasana desa itu.

hari pertama di desa, aku tidak ingat persis apa saja yang kita lalui. mungkin saja aku masih belum berbicara denganmu, atau mungkin saat itu kita sudah saling bicara hanya saja obrolan kita tak terlalu bermakna sehingga dengan mudahnya aku tidak mengingatnya.

hingga akhirnya suatu hari hanya ada aku dan kamu, aku duduk di atas kursi sambil menaikkan kedua kakiku, dan kamu duduk diatas tikar dibawahku. aku yakin kamu tak mengingat detail tentang ini. tapi aku masih mengingatnya dengan baik. itu pertama kalinya aku dan kamu saling bercerita. saat itu kamu berkata bahwa kamu bukan orang yang mudah bercerita dengan sembarang orang. pun sama halnya dengan aku.

hari terus berjalan dan interaksi antara kita pun semakin sering. kamu menjadi orang yang jahil. sungguh berbeda dengan kesan pertama aku melihatmu. semakin hari semakin banyak hal yang saling kita bagikan. tentang masa lalumu, tentang bagaimana kamu baru saja diabaikan, tentang masa laluku, tentang masa sekarangku, dan segala hal yang tiba-tiba kita ceritakan.

berada terlalu lama di desa membuatku dan semua temanku bosan. kita pun akhirnya memilih pergi ke suatu tempat yang tidak terduga akan sejauh itu. butuh waktu hampir 2 jam untuk sampai di tempat tujuan itu. aku bukan orang yang terlalu suka menikmati perjalanan jauh. yang aku pikirkan saat sampai di tempat tujuan adalah bagaimana caranya agar aku tidak bosan saat jalan pulang. entah mengapa, aku selalu berboncengan dengan kamu. bukan karena tidak mau dengan yang lain. alasan terkuatku adalah kamu bisa membuat setiap perjalananku tidak terasa membosankan. selalu ada cerita setiap aku dan kamu ada di motor itu, sudah puluhan lagu yang kita nyanyikan di atas motor itu.

saat ini laguku berganti menjadi lagu dari Aldy yang berjudul biar aku yang pergi.
hanya saja menurutku lagu ini sesuai dengan suasana hari ini makanya aku cantumin di blog ini. barang kali kamu mau membaca tulisan ini sambil mendengarkan lagu yang sama dan berharap merasakan keadaan yang sama denganku saat ini.

lagi lagi ini bukan kehilangan orang yang aku cintai,
apa lagi yang sudah kita habiskan bersama?
masak mie bareng. makan mie bareng. bikin nasi goreng bareng. pergi ke desa tetangga demi es teh. begadang bareng. nonton drama bareng. cari jajan bareng. bungkus makan bareng. dan kamu tidak pernah bosan menegurku ketika aku merengek ingin es batu saat hujan. hahahahaha

hei kamu ingat saat aku benar-benar ingin makan roti bakar hari itu?
sore itu hujan dan justru membuatku semakin ingin makan roti bakar. ketika mulai mereda kamu kembali menanyakan apakah tetap mau roti bakar? dan pasti aku jawab iya.
kamu ingat bagaimana kita menerjang hujan malam itu?

pernah suatu pagi, masih dengan muka bantalku, kamu dengan antusiasnya menggeretku ke dapur, dan dengan santainya "masih ada nasi, kamu tau kan harus ngapain?" iya. nasi goreng lagi.

pernah suatu hari, aku masih asyik dengan mie goreng yang kurebus atau lebih akrab dikenal mie dok dok. kamu tibatiba datang, mencicipi sesendok dua sendok, dan berkata "kapan-kapan bikinin yang kayak gini ya."

pernah suatu hari, kita sedang melanjutkan episode salah satu drama korea. tiba-tiba listrik sore itu mati dan kamu memutuskan untuk tiduran di kursi panjang depan rumah. aku meninggalkanmu saat itu karena memang tidak ada yang bisa aku kerjakan saat itu. dan apa yang kamu katakan beberapa lama saat kamu terbangun? sebuah bentuk protes karena aku telah meninggalkan. ya gimana wkwkwkw

ingat saat kita di berikan tanggung jawab untuk bersosialisasi di satu RW yang sama? ingat bagaimana kakunya cara kita presentasi? ingat bagaimana bahagianya kita saat salah satu teman kita bantuin sosialisasi? hahahahahaha

mendekati hari kepulanganku kembali ke rumah, ada banyak deadline yang memaksaku untuk berkutat dengan laptop dari pagi sampai tengah malam. untuk kamu, terimakasih sudah menemani begadang. walaupun hanya sekedar ikut selonjoran di karpet itu. setidaknya saat itu aku merasa masih ada yang peduli. caramu tetap disana dengan melakukan kegiatanmu sendiri menurutku adalah wujud kepedulianmu. bukan baper tapi emang begitu rasanya.

kalau ku ceritakan dengan detail setiap harinya mungkin aku bisa menghabiskan lebih dari 40 hari untuk bercerita. aku hanya akan bercerita sebagian karena aku takut setelah aku melewati masa ini lalu membaca tulisan ini, aku kembali mengingat semuanya. yang tertulis disini hanya bagian yang ketika aku membacanya, aku masih akan baik-baik saja.

aku baru sadar tulisan tadi hanya berisi kegiatanku di desa saat itu. aku belum menceritakan kenapa aku menganggapmu pendengar baikku.

sebelumnya aku bercerita segala masalah kepada sesama teman perempuan. mendapatkan kritik dan saran dari sudut pandang perempuan. sejak bercerita denganmu, aku mulai mempertimbangan sudut pandang lawan jenis. kamu banyak menyampaikan hal yang sebelumnya tidak disampaikan oleh teman perempuanku. intinya terimakasih sudah meluangkan waktunya untuk sekadar bertanya "apa yang baru saja terjadi?"

sama halnya denganmu, aku tidak terbiasa bercerita dengan orang lain. saat aku sudah bercerita, itu artinya kamu sudah aku anggap cukup dekat

lalu bagaimana caranya dia pergi?
aku tau saat kamu mengatakan itu bukan berarti kamu akan hilang selamanya. tapi perlahan.
kenapa aku menganggapmu pergi dengan cepat padahal kamu melakukannya perlahan?
karena saat kalimat perpisahan itu keluar darimu, aku merasa kamu sudah hilang.

masih belum banyak hal yang sudah kita lalui bersama. hanya saja itu amat teringat jelas.

untuk kamu yang aku maksud,
terimakasih sudah menjadi teman baikku
terimakasih sudah menjadi pendengarku yang baik
terimakasih sudah menjadi penasehat yang baik
terimakasih sudah menjadi penghibur saat badai

selamat menjalani harimu selanjutnya
tetap semangat memperbaiki diri
semangat selesain kuliah dan pulang ke kampung halamanmu lagi sesuai harapanmu
kalau suatu saat nanti kita bertemu, dimanapun itu, akan ku pastikan aku masih mengingatmu. InsyaAllah.

aku menulis ini dalam rangka mewujudkan harapanmu supaya aku mengisi blog ini tentang ceritaku selama di desa. dan ini ceritaku......... yang bahkan sepenuhnya tentang kamu


Semarang, 23 Februari 2018



Minggu, 09 April 2017

AKU BENCI HAL INI

untuk seseorang yang aku maksud di tulisan ini
ini adalah bentuk sanggahan dari apa yang kamu ucapkan hari itu bahwa aku selalu meninggalkanmu. ketahuilah aku benci ketika saat itu tiba

aku benci situasi ini
ketika bahagiaku tak lagi leluasa ku raih
benci ketika perlahan tanganmu tak lagi ku genggam
benci ketika satu demi satu jemariku meregang darimu
kau pasti tau aku benci hal ini
benci ketika kita tiba di stasiun ini lagi
benci suara pencetak tiket itu lagi
benci ketika aku harus berbaris diantara puluhan orang
benci ketika sesekali aku menengok dan melihatmu dari kejauhan
benci melihat senyumanmu dari jauh
benci ketika langkahku semakin menjauh darimu
aku benci hal ini
ketika aku mempercepat langkahku menjauhimu hanya karena aku tak lagi sanggup merasakan perpisahan ini secara perlahan
aku hanya ingin melewatinya dengan cepat
aku benci menatap peron ini lagi
benci ketika harus mencari gerbongku
benci ketika harus melihat satu demi satu nomor kursi yang berjejeran untuk menemukan kursiku
benci ketika harus menghitung mundur sampai keretaku berjalan
benci melihat jam tangan karena keretaku selalu tepat waktu
benci ketika harus menatap keretaku menjauh dari stasiun
kau tau apa yang aku lakukan sesampainya di kursi kereta yang ku pilih?
menulis segalanya di memo
menuangkan segala kebencianku
mempersiapkan hati agar tidak perih ketika jarak terasa masih jahat untukku
aku memang pembenci
tapi aku taukah kamu apa yang lebih ku benci dari semua yang telah aku sebut?
aku benci kamu
aku benci melihatmu
melihatmu tersenyum melihat langkahku yang semakin menjauh
tapi ternyata ada yang lebih ku benci darimu
benci karena kita tak tau kapan lagi takdir akan memberikan kita untuk kembali bertatap muka
aku benci hal ini
benci ketika kamu berbisik "baik-baik disana..."
Hey..... aku pasti baik-baik saja
taukah kamu apa yang membuat semuanya terasa lebih baik lagi?
menatapmu bukan hanya dari foto di ponsel
mendengar suara bukan dari rekaman atau telepon malam hari
melihat tawamu bukan dari video dokumenter atau videocall
aku benci hal ini
benci ketika menyadari bahwa keretaku semakin bergerak menjauh darimu
tapi ketahuilah
segala kebencianku hanya sekedar bentuk protesku pada alam

Semarang, 2 April 2017



Minggu, 12 Maret 2017

STASE TERBAPER

1. Ibu

2. Ibu

3. Ibu

4. Ayah
Sekarang aku semakin paham alasan kenapa "Ibu" harus disebutkan tiga kali diawal. Bahkan memuliakannya 3 kali lebih banyak dari ayah rasanya masih belum sebanding dengan perjuangannya. 

Hari ini 7 Maret 2017 
aku berada disuatu ruangan berukuran 3x4 meter, menatap dari sela tirai yang sedikit terbuka. aku bisa menemukan seorang perempuan sedang berbaring di atas kasur, disamping kirinya berdiri seorang laki-laki yang tak pernah melepaskan genggaman tangan perempuan itu. 

Dari sela tirai terlihat dengan jelas mimik wajah perempuan itu. dia mengeran secara berkala, keringat bercucuran di wajahnya. sekali, dua kali, laki-laki disamping kirinya mengusap keringat perempuan itu. namun masih tetap melepaskan genggaman itu.

Perempuan itu masih berjuang. Memperjuangkan hidupnya untuk mewujudkan sebuah kehidupan baru. laki-laki itupun masih berjuang. berjuang untuk tetap menjadi penyuplai semangat nomor satu untuk perempuan itu.

5 menit.....10 menit.... 15 menit..... berlalu
Dan aku masih mendengar suara itu. aku masih melihat perjuangan itu. sampai suatu ketika perempuan itu memberi isyarat bahwa dia tak sanggup lagi untuk berjuang. Laki-laki disamping kirinya masih tak lelah mengucapkan kalimat penyemangat.. 

dan beberapa menit kemudian, ada suara lain di ruangan itu, ada manusia lain yang berada disana. seorang perempuan mungil yang mengucapkan "terima kasih ibu" melalui tangis kencangnya. seorang perempuan kecil yang masih berlumuran darah itu terus menangis saat disekelilingnya tersenyum.

laki-laki itu masih diposisi yang sama. masih menggenggam tangan perempuan itu dan sesekali mencium keningnya. Mungkin itu adalah cara laki-laki itu menyampaikan terima kasih atas perjuangannya namun bibir tak sanggup berkata. perempuan mungil itu sudah didekap seseorang yang beberapa detik yang lalu sedang memperjuangkan hidupnya untuk kehidupan baru.

Badan manusia hanya mampu menanggung kesakitan sampai 45 Del. Tetapi ketika bersalin ibu akan mengalami rasa sakit hingga 57 Del yang rasanya, menurut para ahli, sama dengan 20 tulang yang dipatahkan secara serentak
bagaimana bisa perempuan itu seperti tak lagi menghiraukan rasa sakit yang luar biasa itu sesaat setelah melihat perempuan mungil itu?

ketika banyak orang yang menyukai pemandangan dari bukit, pemandangan pinggir pantai, atau mungkin pemandangan kelip lampu kota, ternyata aku lebih menyukai pemandangan ini. 

untuk perempuan kecil yang lahir hari ini,
terima kasih sudah memberikan pelajaran berharga untuk orang disekelilingmu
terutama untukku

Minggu, 05 Maret 2017

How I Meet "You"

Senin, 19 Desember 2016 

Liburan adalah saat yang paling ditunggu oleh setiap mahasiswa. hanya untuk sekedar menghirup udara segar di suatu tempat yang tak dapat di kunjungi saat tugas kuliah menghadang. destinasi liburanku kali ini adalah salah satu kota yang sering di sebut "kota hujan", ya.... Bogor.

Alasan terbesarku memilih kota itu adalah...... tidak ada. Ternyata aku tidak punya alasan apapun untuk memilih kota ini. Tapi di kota inilah yang akhirnya aku menemukanmu. Semenjak malam itu, hidupku mulai berbeda.

Untuk seseorang yang kutemui malam ini, "hello, stranger" adalah sapaan yang tepat untukmu malam ini. seseorang yang hanya kutau namanya dari sahabat baikku, seseorang yang beberapa kali mengirimkan salam untukku melalui sahabat baikku, dan seseorang yang tidak pernah kuduga akan ku temui malam ini.

Malam ini tentu berbeda dari sebelumnya. Kali ini kamu berhasil membawaku kembali merasakan suatu hal yang telah lama tak terpikirkan akan hadir bersama dengan kedatanganmu di hidupku. Seseorang yang namanya tak lagi asing, namun wujudnya baru ku temui. Masih teringat jelas ketika kakiku semakin mendekat ke arahmu, ketika tangan ini menunggu balas jabatan darimu dan senyum pertamamu saat mataku berhasil menemukanmu. Tak menyangka bahwa akhirnya kamu mampu membuatku seperti hidup kembali. Aku seperti terbawa arusmu. Menikmati setiap topik yang kau pilih dan berhasil membuatku merasa bahwa kamu orang yang berbeda. 

Masih tentangmu. Tentang pertemuan yang tak pernah terpikirkan olehku. Tentang seseorang yang membuatku akhirnya memutuskan untuk menceritakan tentang ini kepada dunia melalui blog. Menikmati malam hari bersamamu untuk pertama kali membuatku tau sedikit tentangmu: ekstrovert, nasi goreng sejati, pengagum langit. 

Bicara soal "langit", aku adalah salah satu orang yang tidak suka melihat ruang tanpa batas, seperti langit dan laut lepas. melihatnya membuatku seperti kehilangan arah. langit bukan objek yang bisa dinikmati, menurutku. hanya saja, hal ini berbeda denganmu. malam itu kamu terus berbicara tentang langit, tentang bentuk awan, tentang bulan, dan keberadaan bintang. kamu terlihat menyusuri setiap jengkal luas langit malam itu untuk menemukan bintang, malam itu tidak ada bintang, ucapmu. aku tak memperdulikan hal itu, tapi berbeda denganmu. 

Menghabiskan malam bersamamu terasa berbeda. orang asing yang baru kutemui malam ini mampu membuatku berpikir "apakah aku dan kamu adalah reinkarnasi dari masalalu sepasang teman dekat?" aku merasa bahwa kamu bukan orang asing lagi untukku. aku merasa kita seperti teman dekat yang berkesempatan bertemu kembali disuatu tempat. 

Untuk kamu yang kutemui malam ini, namamu selalu ada disetiap hariku semenjak malam itu. aku kembali bisa menikmati hari dengan menatap layar handphone sambil sesekali tersenyum karena mengobrol denganmu, mengetahui kabarmu, menanyakan kegiatanmu, dan merasakan kehadiranmu.

Rabu, 22 Desember 2016
aku menyebutnya "one night with stranger". malam lain yang aku habiskan lagi denganmu. dengan seseorang yang 2 hari ini mengisi hariku dan mengubah hidupku.
Setelah sebelumnya berkeliling kota bogor untuk menentukan tempat menepi, akhirnya aku dan kamu duduk berhadapan di sebuah tempat makan cepat saji. kamu dengan nasi ayammu, dan aku dengan eskrimku, serta segelas besar minuman bersoda dengan dua sedotan didalamnya. itu teman kita malam ini.
ini adalah malam terakhirku di kota Bogor, besok pagi aku harus mengejar bus yang akan membawaku ke pesawat yang akan membawaku pulang ke kota kelahirkanku. bisa dibilang, malam ini seperti malam perpisahanku denganmu. untuk pertama kalinya, aku tidak bersemangat untuk kembali ke kotaku sendiri.
malam ini kamu masih sama, pandai mencari topik bahasan yang bisa kita nikmati bersama.
you give me all your "life" and all I gave you was "Good bye"
aku benci kalimat itu, kalimat yang aku sampaikan ke kamu yang menandakan aku dan kamu akan terpisah jarak ratusan kilometer dan tidak akan pernah tau kapan akan bertemu kembali.
ada kata "good" dalam "Good bye"
katamu seolah mencoba menenangkanku, terimakasih untuk usahanya untuk tetap terlihat tegar menghadapi perpisahan ini.
aku juga baru pertama kali ditinggalin pulang kampung yang sesedih ini.
kalimatmu sungguh menenangkanku. aku masih mengingat sepasang matamu yang menahan air mata, aku bersyukur karena aku tidak merasakannya seorang diri, ternyata kamu pun merasa berat untuk berpisah.

Kamis, 23 Desember 2016
pertemuan kita, kegiatan kita, momen indah itu bagi orang lain mungkin adalah kejadian yang biasa saja, tapi menurutku bisa melakukan hal tersebut dengan kamu adalah sebuah hal yang luar biasa, mungkin itulah yang membuat aku seberat ini buat menerima kenyataan kalau kamu lagi di jalan pulang ke rumah
Terimakasih untukmu "stranger" yang membuatku merasa menjadi orang yang cukup penting dihidupmu semenjak hari itu. entah ini hanya perasaanku saja atau apapun itu, selamat, kamu sudah berhasil menyita perhatianku semenjak malam itu. aku suka caraku menemukanmu....

Aku dan kamu tak lagi menginjak kota yang sama. Dan entah kapan lagi akhirnya kita disatukan kembali.