Sekarang pukul 2.38 WIB tertanggal 11/06/2018
Saya baru saja keluar dari kamar mandi dan mendapati baterai handphone saya menipis. (infopenting, dunia harus tahu)
Saya sedang tidak berteman malam ini. Disaat semua orang sedang merebahkan badannya dikasur, saya sibuk berkeliling rumah untuk memastikan semuanya aman (sebenernya karena gabut aja)
Beberapa bulan terakhir saya sudah merusak jam tidur malam saya.
Ya. Merusaknya. Membuatnya berantakan. Tidak teratur. Dan sulit dibenahi. Oke ini terlalu mendramatisir wkwkwk yang jelas malam jadi siang dan siang jadi malam.
Tiba-tiba beberapa menit yang lalu saya mendapat hidayah untuk mengisi blog ini. Mari kita bersihkan sarang laba-laba di blog ini. (apasih)
Malam hari selain saya gunakan untuk scroll apapun yang bisa saya scroll, waktu malam saya buat untuk memikirkan hal-hal yang melintas diotak. Seperti, sebenarnya saya kurus atau gemuk. Ya, pertanyaan itu pernah berhari-hari saya pikirkan dan selalu saya usahakan untuk menemukan jawabannya. Akhirnya saya simpulkan bahwa saya adalah apa yang ada disekeliling saya. Ketika saya bersama orang yang ukuran tubuhnya lebih kecil otomatis saya gemuk dan begitu sebaliknya.
Ya, random. Hal-hal yang seharusnya tidak perlu dipikirkan mendalam tapi tidak dengan saya. Saya akan memikirkannya dalam dalam sampai saya puas dengan kesimpulan yang saya ambil. Se-nggak-penting itu waktu tidur yang saya buang? Ooohh jelas tidak. Ini adalah bentuk peduli saya terhadap diri saya sendiri. (tetep nggak mau disalahin)
Jadi…..
Sambil menunggu baterai handphone terisi, mari kita membuat jari-jari olahraga malam untuk mengisi blog ((((ternggakberfaedah))))) ini.
Karena biasanya apa yang saya pikirkan hanya ada dalam pikiran, kali ini saya akan mencoba menuliskan apapun yang ada dipikiran saya. Tanpa filter. (dikit deh)
Yang ada dipikiran saya detik ini (2.50 WIB) adalah tentang melupakan masa lalu. Bukan lagi galau loh ya, ya karena kembali lagi, saya anak random. Markitmul (marikitamulai)
Sebenarnya saya kurang setuju dengan melupakan masa lalu. Banyak hal yang telah dilakukan masa lalu untuk membentuk diri, sikap, dan sifat kita detik ini. Masa lalu bukan selalu tentang kenangan buruk dan baik. Menurutku itu tentang pelajaran. Bagaimana dengan move on? Itu bukan tentang melupakan orang dimasalalu juga sih. Menurutku itu tentang bagaimana kita bisa menapaki selangkah lebih maju dari posisi sebelumnya. Misalnya dengan menerima kenyataan bahwa dia sudah pergi adalah salah satu definisi move on menurutku. Jadi tidak selalu melupakan apapun yang pernah dilakukan bersama, dan apa saja yang masih sering teringat tentang dia. Atau bahkan melupakan wujudnya, namanya, menghapus semua akses komunikasi dengan doi.
Saya pernah berada ditahap, “GIMANA AKU BISA MOVEON DARI DIA. KITA KEMANA-MANA SELALU BARENG. NGGAK GAMPANG TAU. JANGAN SOK NASEHATIN DEH.”
Iya. Ditahap saya tidak percaya dengan kemampuan saya. Di saat segala semangat yang diberikan orang terdekat terasa hanya sebuah basa-basi. Saat dimana “LO GAMPANG NGOMONG DOANG. GUE NGEJALANIN. “ saya sekarang sedang waras, dan satu hal yang akan saya lakukan kalau misalnya saya adalah orang yang sedang menghadapi diri saya sendiri saat saya bego dulu adalah TOYOR KEPALA.
Menerima segala support orang lain sekecil apapun yang diberikan ternyata menambah energi positif dalam diri. Saya curhat, dia dengerin. Saya dapat energi. Apalagi kalo dia sampai memberikan tanggapan, apalagi memberikan semangat. Seperti diberi tambahan nyawa. Lebaaayyyyy
Tapi memang iya, moveon ngga segampang itu broohhh.
“ Ah lembek lu moveon aja dibuat susah. “ “yaelaaah, kayak kerupuk direndem air aja loyo gitu.”
Sebenernya moveon itu susah. Tergantung bagaimana orang tersebut menutupinya. Iya, menutupi.
“Dia lagi moveon tapi happy terus tuh”, kamu tidak melihat usaha dia untuk menutupinya. Yakinlah moveon itu susah. Yang bilang gampang, kamu ga pake hati ya pasti?
Sebagai anak sosial media (asik) saya masih sering mendapati banyak kenangan masa lalu tentang saya dan orang dimasalalu. Dan terkadang itu membuat saya inget lagi tentang cerita lama.
JIAAHHHH BELOM MOVEON YA LOOOOOO
Sudah. Saya sudah biasa saat melihat namanya. Biasa saat inget masa indah (idiihhhh) dulu. Tapi Allah tidak menginginkan saya untuk melupakan cerita itu. Saya sudah menerima kenyataan bahwa orang itu sudah berada dihalaman yang jauh dari halaman yang sedang saya lalui sekarang.
Jadi ingin berterimakasih. Untuk semua orang yang pernah hadir didalam hidupku dimasalalu. Siapapun kamu, terimakasih sudah menjadi bagian dari hidupku. Pasti kamu bermanfaat buat aku, apapun yang kamu lakukan, Allah sudah memilihmu untuk memperbaiki hidupku. Untuk segala hal yang menyakitkan dimasalalu pun bagian dari perbaikan hidup. Bagaimana menjadi pribadi yang lebih kuat dari sebelumnya.
Bagaimana dengan balikan sama mantan? ((btw ini masih konteks masalalu kan? Tibatiba ada didalam pikiran aja wkwkw))
Bukan hal yang haram saya rasa. Dua orang yang pernah ada ikatan kemudian memutuskan untuk berjalan masing-masing pasti mereka menemukan satu hal (bisa lebih) yang membuat berpikir, “bukan orang ini“
Tidak bisa dipungkiri pasti saya pun akan berharap pasangan saya saat itu adalah orang yang saya harap akan terus bersama saya. Semakin berjalannya waktu, banyak hal yang akan saling kita temukan dalam diri pasangan. Dan saat ada hal yang membuat salah satunya berpikir “bukan orang ini“, kelar……..
Terus kalo udah nemuin ada hal yang membuat berpikir “bukan orang ini“, tapi pas diajak balikan malah mau, siapa yang bego?
Yang nanya yang bego. Otakmu sempit. Yuk jalan-jalan. (ini jadi beneran pengen jalan-jalan, apasiiiihhh random banget)
Ini tentang bagaimana kita belajar. Belajar memperbaiki diri dan belajar menerima orang lain. Pasti semua ada titik tengahnya.
Kalau alasannya karena dia pelit. Itu berarti kamu harus belajar menabung.
Kalo alasannya karena dia suka bohong. Itu berarti kamu harus belajar jujur dan terbuka.
Kalo alasannya dia sibuk nggak punya waktu. Itu berarti kamu diingatkan untuk mengurusi hidupmu dulu, diberi kesempatan untuk fokus dengan hidupmu
Sok bijak padahal gabijak. Bodoamaattttt kan no filter ya hahaha
Lebih milih putus karena diselingkuhin atau karena sibuk nggak punya waktu?
Aku sih lebih milih putus karena diselingkuhin. (nanya sendiri, jawab sendiri)
Karena jelas aja gitu alasannya. Kamu tau alasan kamu pergi karena pasanganmu tidak hanya milikmu. Sejelas itu. Gimana kalau diselingkuhin pas lagi sayang-sayangnya? Itu sih pacarmu yang pinter, dia tetep bisa bikin pacarnya sayaaaaaang banget padahal dia juga sibuk menyayangi orang lain.
Putus karena salah satunya sibuk nggak punya waktu adalah putus paling menyakitkan. Hal itu adalah putus yang disebabkan oleh diri sendiri. Ya, awakmu dewe. Ibaratnya kamu sedang melawan egomu. Kemudian egomu yang menang. Dan kamu merasa tersakiti, padahal yang nyakitin ya kamu sendiri. Awakmu dewe..
Setiap orang pasti punya kesibukan masing-masing, tapi semua tergantung prioritas. Setuju sih tapi klise banget nggak sih? Terkesan hidupmu tergantung pada waktu yang diluangkan oleh pasanganmu.
Hei. Live for your life. Dia hanya pengisi, syukur-syukur kalau membahagiakan. Intinya sih menikmati hidup, bahagia adalah bonus. Asik nggak tuh. Asikin aja dong.
Mari kita tutup tulisan basa basi ini dengan kalimat dari salah satu teman saya yang membuat saya menegakkan kepala. Berikut ini, taraaaaaaaaaa “UDAH. HOBI KOK DISAKITI.”
Semoga kita adalah orang-orang yang tidak akan menyakiti diri sendiri. Big love!
(3.35 WIB, 11/06/2018)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar