Minggu, 09 April 2017

AKU BENCI HAL INI

untuk seseorang yang aku maksud di tulisan ini
ini adalah bentuk sanggahan dari apa yang kamu ucapkan hari itu bahwa aku selalu meninggalkanmu. ketahuilah aku benci ketika saat itu tiba

aku benci situasi ini
ketika bahagiaku tak lagi leluasa ku raih
benci ketika perlahan tanganmu tak lagi ku genggam
benci ketika satu demi satu jemariku meregang darimu
kau pasti tau aku benci hal ini
benci ketika kita tiba di stasiun ini lagi
benci suara pencetak tiket itu lagi
benci ketika aku harus berbaris diantara puluhan orang
benci ketika sesekali aku menengok dan melihatmu dari kejauhan
benci melihat senyumanmu dari jauh
benci ketika langkahku semakin menjauh darimu
aku benci hal ini
ketika aku mempercepat langkahku menjauhimu hanya karena aku tak lagi sanggup merasakan perpisahan ini secara perlahan
aku hanya ingin melewatinya dengan cepat
aku benci menatap peron ini lagi
benci ketika harus mencari gerbongku
benci ketika harus melihat satu demi satu nomor kursi yang berjejeran untuk menemukan kursiku
benci ketika harus menghitung mundur sampai keretaku berjalan
benci melihat jam tangan karena keretaku selalu tepat waktu
benci ketika harus menatap keretaku menjauh dari stasiun
kau tau apa yang aku lakukan sesampainya di kursi kereta yang ku pilih?
menulis segalanya di memo
menuangkan segala kebencianku
mempersiapkan hati agar tidak perih ketika jarak terasa masih jahat untukku
aku memang pembenci
tapi aku taukah kamu apa yang lebih ku benci dari semua yang telah aku sebut?
aku benci kamu
aku benci melihatmu
melihatmu tersenyum melihat langkahku yang semakin menjauh
tapi ternyata ada yang lebih ku benci darimu
benci karena kita tak tau kapan lagi takdir akan memberikan kita untuk kembali bertatap muka
aku benci hal ini
benci ketika kamu berbisik "baik-baik disana..."
Hey..... aku pasti baik-baik saja
taukah kamu apa yang membuat semuanya terasa lebih baik lagi?
menatapmu bukan hanya dari foto di ponsel
mendengar suara bukan dari rekaman atau telepon malam hari
melihat tawamu bukan dari video dokumenter atau videocall
aku benci hal ini
benci ketika menyadari bahwa keretaku semakin bergerak menjauh darimu
tapi ketahuilah
segala kebencianku hanya sekedar bentuk protesku pada alam

Semarang, 2 April 2017



Minggu, 12 Maret 2017

STASE TERBAPER

1. Ibu

2. Ibu

3. Ibu

4. Ayah
Sekarang aku semakin paham alasan kenapa "Ibu" harus disebutkan tiga kali diawal. Bahkan memuliakannya 3 kali lebih banyak dari ayah rasanya masih belum sebanding dengan perjuangannya. 

Hari ini 7 Maret 2017 
aku berada disuatu ruangan berukuran 3x4 meter, menatap dari sela tirai yang sedikit terbuka. aku bisa menemukan seorang perempuan sedang berbaring di atas kasur, disamping kirinya berdiri seorang laki-laki yang tak pernah melepaskan genggaman tangan perempuan itu. 

Dari sela tirai terlihat dengan jelas mimik wajah perempuan itu. dia mengeran secara berkala, keringat bercucuran di wajahnya. sekali, dua kali, laki-laki disamping kirinya mengusap keringat perempuan itu. namun masih tetap melepaskan genggaman itu.

Perempuan itu masih berjuang. Memperjuangkan hidupnya untuk mewujudkan sebuah kehidupan baru. laki-laki itupun masih berjuang. berjuang untuk tetap menjadi penyuplai semangat nomor satu untuk perempuan itu.

5 menit.....10 menit.... 15 menit..... berlalu
Dan aku masih mendengar suara itu. aku masih melihat perjuangan itu. sampai suatu ketika perempuan itu memberi isyarat bahwa dia tak sanggup lagi untuk berjuang. Laki-laki disamping kirinya masih tak lelah mengucapkan kalimat penyemangat.. 

dan beberapa menit kemudian, ada suara lain di ruangan itu, ada manusia lain yang berada disana. seorang perempuan mungil yang mengucapkan "terima kasih ibu" melalui tangis kencangnya. seorang perempuan kecil yang masih berlumuran darah itu terus menangis saat disekelilingnya tersenyum.

laki-laki itu masih diposisi yang sama. masih menggenggam tangan perempuan itu dan sesekali mencium keningnya. Mungkin itu adalah cara laki-laki itu menyampaikan terima kasih atas perjuangannya namun bibir tak sanggup berkata. perempuan mungil itu sudah didekap seseorang yang beberapa detik yang lalu sedang memperjuangkan hidupnya untuk kehidupan baru.

Badan manusia hanya mampu menanggung kesakitan sampai 45 Del. Tetapi ketika bersalin ibu akan mengalami rasa sakit hingga 57 Del yang rasanya, menurut para ahli, sama dengan 20 tulang yang dipatahkan secara serentak
bagaimana bisa perempuan itu seperti tak lagi menghiraukan rasa sakit yang luar biasa itu sesaat setelah melihat perempuan mungil itu?

ketika banyak orang yang menyukai pemandangan dari bukit, pemandangan pinggir pantai, atau mungkin pemandangan kelip lampu kota, ternyata aku lebih menyukai pemandangan ini. 

untuk perempuan kecil yang lahir hari ini,
terima kasih sudah memberikan pelajaran berharga untuk orang disekelilingmu
terutama untukku

Minggu, 05 Maret 2017

How I Meet "You"

Senin, 19 Desember 2016 

Liburan adalah saat yang paling ditunggu oleh setiap mahasiswa. hanya untuk sekedar menghirup udara segar di suatu tempat yang tak dapat di kunjungi saat tugas kuliah menghadang. destinasi liburanku kali ini adalah salah satu kota yang sering di sebut "kota hujan", ya.... Bogor.

Alasan terbesarku memilih kota itu adalah...... tidak ada. Ternyata aku tidak punya alasan apapun untuk memilih kota ini. Tapi di kota inilah yang akhirnya aku menemukanmu. Semenjak malam itu, hidupku mulai berbeda.

Untuk seseorang yang kutemui malam ini, "hello, stranger" adalah sapaan yang tepat untukmu malam ini. seseorang yang hanya kutau namanya dari sahabat baikku, seseorang yang beberapa kali mengirimkan salam untukku melalui sahabat baikku, dan seseorang yang tidak pernah kuduga akan ku temui malam ini.

Malam ini tentu berbeda dari sebelumnya. Kali ini kamu berhasil membawaku kembali merasakan suatu hal yang telah lama tak terpikirkan akan hadir bersama dengan kedatanganmu di hidupku. Seseorang yang namanya tak lagi asing, namun wujudnya baru ku temui. Masih teringat jelas ketika kakiku semakin mendekat ke arahmu, ketika tangan ini menunggu balas jabatan darimu dan senyum pertamamu saat mataku berhasil menemukanmu. Tak menyangka bahwa akhirnya kamu mampu membuatku seperti hidup kembali. Aku seperti terbawa arusmu. Menikmati setiap topik yang kau pilih dan berhasil membuatku merasa bahwa kamu orang yang berbeda. 

Masih tentangmu. Tentang pertemuan yang tak pernah terpikirkan olehku. Tentang seseorang yang membuatku akhirnya memutuskan untuk menceritakan tentang ini kepada dunia melalui blog. Menikmati malam hari bersamamu untuk pertama kali membuatku tau sedikit tentangmu: ekstrovert, nasi goreng sejati, pengagum langit. 

Bicara soal "langit", aku adalah salah satu orang yang tidak suka melihat ruang tanpa batas, seperti langit dan laut lepas. melihatnya membuatku seperti kehilangan arah. langit bukan objek yang bisa dinikmati, menurutku. hanya saja, hal ini berbeda denganmu. malam itu kamu terus berbicara tentang langit, tentang bentuk awan, tentang bulan, dan keberadaan bintang. kamu terlihat menyusuri setiap jengkal luas langit malam itu untuk menemukan bintang, malam itu tidak ada bintang, ucapmu. aku tak memperdulikan hal itu, tapi berbeda denganmu. 

Menghabiskan malam bersamamu terasa berbeda. orang asing yang baru kutemui malam ini mampu membuatku berpikir "apakah aku dan kamu adalah reinkarnasi dari masalalu sepasang teman dekat?" aku merasa bahwa kamu bukan orang asing lagi untukku. aku merasa kita seperti teman dekat yang berkesempatan bertemu kembali disuatu tempat. 

Untuk kamu yang kutemui malam ini, namamu selalu ada disetiap hariku semenjak malam itu. aku kembali bisa menikmati hari dengan menatap layar handphone sambil sesekali tersenyum karena mengobrol denganmu, mengetahui kabarmu, menanyakan kegiatanmu, dan merasakan kehadiranmu.

Rabu, 22 Desember 2016
aku menyebutnya "one night with stranger". malam lain yang aku habiskan lagi denganmu. dengan seseorang yang 2 hari ini mengisi hariku dan mengubah hidupku.
Setelah sebelumnya berkeliling kota bogor untuk menentukan tempat menepi, akhirnya aku dan kamu duduk berhadapan di sebuah tempat makan cepat saji. kamu dengan nasi ayammu, dan aku dengan eskrimku, serta segelas besar minuman bersoda dengan dua sedotan didalamnya. itu teman kita malam ini.
ini adalah malam terakhirku di kota Bogor, besok pagi aku harus mengejar bus yang akan membawaku ke pesawat yang akan membawaku pulang ke kota kelahirkanku. bisa dibilang, malam ini seperti malam perpisahanku denganmu. untuk pertama kalinya, aku tidak bersemangat untuk kembali ke kotaku sendiri.
malam ini kamu masih sama, pandai mencari topik bahasan yang bisa kita nikmati bersama.
you give me all your "life" and all I gave you was "Good bye"
aku benci kalimat itu, kalimat yang aku sampaikan ke kamu yang menandakan aku dan kamu akan terpisah jarak ratusan kilometer dan tidak akan pernah tau kapan akan bertemu kembali.
ada kata "good" dalam "Good bye"
katamu seolah mencoba menenangkanku, terimakasih untuk usahanya untuk tetap terlihat tegar menghadapi perpisahan ini.
aku juga baru pertama kali ditinggalin pulang kampung yang sesedih ini.
kalimatmu sungguh menenangkanku. aku masih mengingat sepasang matamu yang menahan air mata, aku bersyukur karena aku tidak merasakannya seorang diri, ternyata kamu pun merasa berat untuk berpisah.

Kamis, 23 Desember 2016
pertemuan kita, kegiatan kita, momen indah itu bagi orang lain mungkin adalah kejadian yang biasa saja, tapi menurutku bisa melakukan hal tersebut dengan kamu adalah sebuah hal yang luar biasa, mungkin itulah yang membuat aku seberat ini buat menerima kenyataan kalau kamu lagi di jalan pulang ke rumah
Terimakasih untukmu "stranger" yang membuatku merasa menjadi orang yang cukup penting dihidupmu semenjak hari itu. entah ini hanya perasaanku saja atau apapun itu, selamat, kamu sudah berhasil menyita perhatianku semenjak malam itu. aku suka caraku menemukanmu....

Aku dan kamu tak lagi menginjak kota yang sama. Dan entah kapan lagi akhirnya kita disatukan kembali.