Jumat, 23 Februari 2018

DALAM RANGKA MENURUTI SARANMU UNTUK LANJUT NGE-BLOG

setelah lama meninggalkan kebiasaan bercerita di dunia maya.
situasi saat ini membawaku untuk kembali menceritakan sebuah kisah yang baru saja aku lalui
atau bahkan saat ini aku sedang berjuang melewatinya.

di iringi dengan lagu cara melupakanmu dari gisel ini aku akan mulai bercerita

hidup ini akan selalu ada yang datang dan pergi
dan saat ini giliranku untuk menceritakan bagaimana caramu pergi

ini bukan tentang seseorang yang amat aku cinta
ini bukan tentang seseorang yang amat aku sayang
ini bukan tentang seseorang yang amat membuatku nyaman
ini tentang kamu, pendengar baikku

kata orang, bagaimana dia datang adalah bagaimana ia pergi
seperti kilat. begitu caraku mendeskripsikan bagaimana cara kamu datang
cepat dan jelas.
pun sama halnya dengan bagaimana caramu pergi. cepat dan jelas

kamu bukan orang yang aku kenal sebelumnya
bahkan namamu pun tak pernah terdengar olehku
wujudmu amat asing bagiku
dan segala tentangmu awalnya sungguh tidak menarik untukku.
aku dan kamu dipaksa harus berada dalam satu grup yang sama.
kamu duduk dipaling ujung, duduk membungkuk sambil bermain dengan handphone setiamu, beberapa kali kamu terlihat membenarkan posisi kaca matamu, dan matamu masih terarah ke ponsel itu.
itu adalah ingatan pertamaku tentangmu.

sampai akhirnya setiap dari kami mengenalkan dirinya. hingga sampai pada giliranmu. oh itu namamu. hanya itu yang ada di pikiranku. setelahnya? aku bahkan lupa siapa namamu. aku hanya ingat kalau kamu adalah teman grupku

hari kemudian masih sama. kita bertemu dalam grup yang sama. bedanya kali ini kamu duduk di sebrangku. masih dengan posisi yang sama, duduk membungkuk memainkan ponsel itu.

hingga hari keberangkatanku ke desa pun tiba
jelas sekali hari ini bukan hari yang aku nantikan
aku harus berada disebuah tempat yang belum pernah aku kunjungi
bahkan nama daerahnya pun baru saja ku dengar

saat itu bisku akan segera berangkat. aku melihat kamu masuk ke bis yang sama denganku membawa tas jinjing yang besarnya sama dengan badanmu. kamu melewatiku, pun aku tidak berharap kamu menyadari bahwa aku adalah teman satu grupmu yang sebentar lagi akan berada di satu tempat tinggal yang sama. aku yakin kamu tidak memperdulikan siapapun saat itu termasuk untuk menyapaku.

bis itu akhirnya membawaku ke desa itu.
jauh dari keramaian kota, jauh dari pemandangan yang biasa aku lihat. kali ini aku tidak lagi leluasa melihat jalan raya yang ramai oleh kendaraan. sungguh menyejukkan suasana desa itu.

hari pertama di desa, aku tidak ingat persis apa saja yang kita lalui. mungkin saja aku masih belum berbicara denganmu, atau mungkin saat itu kita sudah saling bicara hanya saja obrolan kita tak terlalu bermakna sehingga dengan mudahnya aku tidak mengingatnya.

hingga akhirnya suatu hari hanya ada aku dan kamu, aku duduk di atas kursi sambil menaikkan kedua kakiku, dan kamu duduk diatas tikar dibawahku. aku yakin kamu tak mengingat detail tentang ini. tapi aku masih mengingatnya dengan baik. itu pertama kalinya aku dan kamu saling bercerita. saat itu kamu berkata bahwa kamu bukan orang yang mudah bercerita dengan sembarang orang. pun sama halnya dengan aku.

hari terus berjalan dan interaksi antara kita pun semakin sering. kamu menjadi orang yang jahil. sungguh berbeda dengan kesan pertama aku melihatmu. semakin hari semakin banyak hal yang saling kita bagikan. tentang masa lalumu, tentang bagaimana kamu baru saja diabaikan, tentang masa laluku, tentang masa sekarangku, dan segala hal yang tiba-tiba kita ceritakan.

berada terlalu lama di desa membuatku dan semua temanku bosan. kita pun akhirnya memilih pergi ke suatu tempat yang tidak terduga akan sejauh itu. butuh waktu hampir 2 jam untuk sampai di tempat tujuan itu. aku bukan orang yang terlalu suka menikmati perjalanan jauh. yang aku pikirkan saat sampai di tempat tujuan adalah bagaimana caranya agar aku tidak bosan saat jalan pulang. entah mengapa, aku selalu berboncengan dengan kamu. bukan karena tidak mau dengan yang lain. alasan terkuatku adalah kamu bisa membuat setiap perjalananku tidak terasa membosankan. selalu ada cerita setiap aku dan kamu ada di motor itu, sudah puluhan lagu yang kita nyanyikan di atas motor itu.

saat ini laguku berganti menjadi lagu dari Aldy yang berjudul biar aku yang pergi.
hanya saja menurutku lagu ini sesuai dengan suasana hari ini makanya aku cantumin di blog ini. barang kali kamu mau membaca tulisan ini sambil mendengarkan lagu yang sama dan berharap merasakan keadaan yang sama denganku saat ini.

lagi lagi ini bukan kehilangan orang yang aku cintai,
apa lagi yang sudah kita habiskan bersama?
masak mie bareng. makan mie bareng. bikin nasi goreng bareng. pergi ke desa tetangga demi es teh. begadang bareng. nonton drama bareng. cari jajan bareng. bungkus makan bareng. dan kamu tidak pernah bosan menegurku ketika aku merengek ingin es batu saat hujan. hahahahaha

hei kamu ingat saat aku benar-benar ingin makan roti bakar hari itu?
sore itu hujan dan justru membuatku semakin ingin makan roti bakar. ketika mulai mereda kamu kembali menanyakan apakah tetap mau roti bakar? dan pasti aku jawab iya.
kamu ingat bagaimana kita menerjang hujan malam itu?

pernah suatu pagi, masih dengan muka bantalku, kamu dengan antusiasnya menggeretku ke dapur, dan dengan santainya "masih ada nasi, kamu tau kan harus ngapain?" iya. nasi goreng lagi.

pernah suatu hari, aku masih asyik dengan mie goreng yang kurebus atau lebih akrab dikenal mie dok dok. kamu tibatiba datang, mencicipi sesendok dua sendok, dan berkata "kapan-kapan bikinin yang kayak gini ya."

pernah suatu hari, kita sedang melanjutkan episode salah satu drama korea. tiba-tiba listrik sore itu mati dan kamu memutuskan untuk tiduran di kursi panjang depan rumah. aku meninggalkanmu saat itu karena memang tidak ada yang bisa aku kerjakan saat itu. dan apa yang kamu katakan beberapa lama saat kamu terbangun? sebuah bentuk protes karena aku telah meninggalkan. ya gimana wkwkwkw

ingat saat kita di berikan tanggung jawab untuk bersosialisasi di satu RW yang sama? ingat bagaimana kakunya cara kita presentasi? ingat bagaimana bahagianya kita saat salah satu teman kita bantuin sosialisasi? hahahahahaha

mendekati hari kepulanganku kembali ke rumah, ada banyak deadline yang memaksaku untuk berkutat dengan laptop dari pagi sampai tengah malam. untuk kamu, terimakasih sudah menemani begadang. walaupun hanya sekedar ikut selonjoran di karpet itu. setidaknya saat itu aku merasa masih ada yang peduli. caramu tetap disana dengan melakukan kegiatanmu sendiri menurutku adalah wujud kepedulianmu. bukan baper tapi emang begitu rasanya.

kalau ku ceritakan dengan detail setiap harinya mungkin aku bisa menghabiskan lebih dari 40 hari untuk bercerita. aku hanya akan bercerita sebagian karena aku takut setelah aku melewati masa ini lalu membaca tulisan ini, aku kembali mengingat semuanya. yang tertulis disini hanya bagian yang ketika aku membacanya, aku masih akan baik-baik saja.

aku baru sadar tulisan tadi hanya berisi kegiatanku di desa saat itu. aku belum menceritakan kenapa aku menganggapmu pendengar baikku.

sebelumnya aku bercerita segala masalah kepada sesama teman perempuan. mendapatkan kritik dan saran dari sudut pandang perempuan. sejak bercerita denganmu, aku mulai mempertimbangan sudut pandang lawan jenis. kamu banyak menyampaikan hal yang sebelumnya tidak disampaikan oleh teman perempuanku. intinya terimakasih sudah meluangkan waktunya untuk sekadar bertanya "apa yang baru saja terjadi?"

sama halnya denganmu, aku tidak terbiasa bercerita dengan orang lain. saat aku sudah bercerita, itu artinya kamu sudah aku anggap cukup dekat

lalu bagaimana caranya dia pergi?
aku tau saat kamu mengatakan itu bukan berarti kamu akan hilang selamanya. tapi perlahan.
kenapa aku menganggapmu pergi dengan cepat padahal kamu melakukannya perlahan?
karena saat kalimat perpisahan itu keluar darimu, aku merasa kamu sudah hilang.

masih belum banyak hal yang sudah kita lalui bersama. hanya saja itu amat teringat jelas.

untuk kamu yang aku maksud,
terimakasih sudah menjadi teman baikku
terimakasih sudah menjadi pendengarku yang baik
terimakasih sudah menjadi penasehat yang baik
terimakasih sudah menjadi penghibur saat badai

selamat menjalani harimu selanjutnya
tetap semangat memperbaiki diri
semangat selesain kuliah dan pulang ke kampung halamanmu lagi sesuai harapanmu
kalau suatu saat nanti kita bertemu, dimanapun itu, akan ku pastikan aku masih mengingatmu. InsyaAllah.

aku menulis ini dalam rangka mewujudkan harapanmu supaya aku mengisi blog ini tentang ceritaku selama di desa. dan ini ceritaku......... yang bahkan sepenuhnya tentang kamu


Semarang, 23 Februari 2018